Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Tuesday, 26 May 2026 |
KALBARONLINE.com – Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Pontianak, Kalimantan Barat. Dua perempuan asal Medan diduga diiming-imingi uang puluhan juta rupiah untuk menjalani kawin kontrak dengan pria di China.
Kapolresta Pontianak Endang Tri Purwanto mengatakan, kasus tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan dan pengumpulan alat bukti.
“Masih penyelidikan dan pengumpulan alat bukti,” ujarnya, Senin (25/5/2026) malam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua perempuan tersebut masing-masing berinisial A (15) dan D (25). Dari hasil pemeriksaan sementara, keduanya mengaku direkrut oleh seorang perempuan berinisial E (49) untuk diberangkatkan ke Provinsi Hunan, China.
Dalam proses perekrutan itu, korban dijanjikan uang dalam jumlah besar apabila bersedia menikah dengan pria di China.
D disebut dijanjikan uang sebesar Rp50 juta, sementara A yang masih di bawah umur dijanjikan Rp40 juta.
Keduanya diketahui sudah memahami rencana keberangkatan tersebut sejak awal. Namun, faktor ekonomi diduga menjadi alasan utama mereka menerima tawaran tersebut.
Untuk meyakinkan korban, E diduga menunjukkan sejumlah foto perempuan yang disebut telah sukses setelah menikah dengan pria asal China.
Foto-foto tersebut ditemukan polisi di dalam telepon genggam milik E.
Kasus dugaan TPPO di Pontianak itu sebelumnya terungkap setelah polisi menggerebek sebuah rumah di Jalan H Kadir, Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur yang diduga dijadikan tempat penampungan sementara korban.
Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan A dan D asal Medan, serta E yang diketahui berasal dari Deli Serdang, Sumatera Utara.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa paspor, dokumen keberangkatan, hingga surat perjanjian yang diduga berkaitan dengan rencana pemberangkatan korban ke luar negeri.
Saat ini, kasus tersebut masih didalami oleh Polresta Pontianak.
E masih menjalani pemeriksaan di Polresta Pontianak, sementara A dan D telah diamankan di rumah perlindungan. Polisi juga masih menyelidiki pihak yang diduga berperan sebagai penampung dalam kasus tersebut. (*)
KALBARONLINE.com – Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Pontianak, Kalimantan Barat. Dua perempuan asal Medan diduga diiming-imingi uang puluhan juta rupiah untuk menjalani kawin kontrak dengan pria di China.
Kapolresta Pontianak Endang Tri Purwanto mengatakan, kasus tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan dan pengumpulan alat bukti.
“Masih penyelidikan dan pengumpulan alat bukti,” ujarnya, Senin (25/5/2026) malam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua perempuan tersebut masing-masing berinisial A (15) dan D (25). Dari hasil pemeriksaan sementara, keduanya mengaku direkrut oleh seorang perempuan berinisial E (49) untuk diberangkatkan ke Provinsi Hunan, China.
Dalam proses perekrutan itu, korban dijanjikan uang dalam jumlah besar apabila bersedia menikah dengan pria di China.
D disebut dijanjikan uang sebesar Rp50 juta, sementara A yang masih di bawah umur dijanjikan Rp40 juta.
Keduanya diketahui sudah memahami rencana keberangkatan tersebut sejak awal. Namun, faktor ekonomi diduga menjadi alasan utama mereka menerima tawaran tersebut.
Untuk meyakinkan korban, E diduga menunjukkan sejumlah foto perempuan yang disebut telah sukses setelah menikah dengan pria asal China.
Foto-foto tersebut ditemukan polisi di dalam telepon genggam milik E.
Kasus dugaan TPPO di Pontianak itu sebelumnya terungkap setelah polisi menggerebek sebuah rumah di Jalan H Kadir, Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur yang diduga dijadikan tempat penampungan sementara korban.
Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan A dan D asal Medan, serta E yang diketahui berasal dari Deli Serdang, Sumatera Utara.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa paspor, dokumen keberangkatan, hingga surat perjanjian yang diduga berkaitan dengan rencana pemberangkatan korban ke luar negeri.
Saat ini, kasus tersebut masih didalami oleh Polresta Pontianak.
E masih menjalani pemeriksaan di Polresta Pontianak, sementara A dan D telah diamankan di rumah perlindungan. Polisi juga masih menyelidiki pihak yang diduga berperan sebagai penampung dalam kasus tersebut. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini