Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 11 May 2026 |
KALBARONLINE.com – Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar di Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik. Kali ini, Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, ikut menyoroti proses penilaian dewan juri yang dinilai memunculkan tanda tanya.
Ditemui awak media pada Senin (11/5/2026), Harisson menilai terdapat kejanggalan dalam cara juri menilai jawaban peserta saat perlombaan berlangsung. Ia bahkan menyebut juri terkesan belum sepenuhnya menguasai materi yang diperlombakan.
“Juri itu terkesan tidak paham dengan materi yang ditanyakan. Sehingga dia harus baca jawaban yang ada di tab-nya, lalu dia berusaha sandingkan dengan jawaban anak-anak ini. Makanya jadi gagal paham,” ujarnya.
Menurut Harisson, seorang juri seharusnya memiliki pemahaman kuat terhadap materi lomba, sehingga dapat langsung memahami jawaban peserta tanpa harus terlalu bergantung pada catatan atau perangkat pendukung.
“Beda kalau kita sudah paham dengan materi yang ditanyakan. Tidak perlu lihat tab, dengar saja apa jawaban anak-anak ini, kita langsung paham dan bisa langsung kasih nilai,” tegasnya.
Tak hanya soal substansi penilaian, Harisson juga menyinggung bahasa tubuh dan ekspresi juri saat proses lomba berlangsung. Ia menilai hal tersebut menunjukkan adanya keraguan dalam mengambil keputusan.
“Coba perhatikan bahasa tubuh dan raut wajah jurinya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Harisson meminta agar ada rasa keadilan yang benar-benar dirasakan para peserta, terutama siswa SMA Negeri 1 Pontianak (Smansa) yang ikut dalam kompetisi tersebut.
Menurutnya, pengalaman dalam ajang seperti LCC 4 Pilar bisa membekas bagi para pelajar, sehingga proses penilaian harus dilakukan secara objektif dan profesional.
“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak Smansa. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” pesannya.
Ia menegaskan, LCC 4 Pilar bukan sekadar lomba biasa, melainkan kompetisi yang membawa nilai-nilai penting kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tutupnya. (*)
KALBARONLINE.com – Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar di Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik. Kali ini, Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, ikut menyoroti proses penilaian dewan juri yang dinilai memunculkan tanda tanya.
Ditemui awak media pada Senin (11/5/2026), Harisson menilai terdapat kejanggalan dalam cara juri menilai jawaban peserta saat perlombaan berlangsung. Ia bahkan menyebut juri terkesan belum sepenuhnya menguasai materi yang diperlombakan.
“Juri itu terkesan tidak paham dengan materi yang ditanyakan. Sehingga dia harus baca jawaban yang ada di tab-nya, lalu dia berusaha sandingkan dengan jawaban anak-anak ini. Makanya jadi gagal paham,” ujarnya.
Menurut Harisson, seorang juri seharusnya memiliki pemahaman kuat terhadap materi lomba, sehingga dapat langsung memahami jawaban peserta tanpa harus terlalu bergantung pada catatan atau perangkat pendukung.
“Beda kalau kita sudah paham dengan materi yang ditanyakan. Tidak perlu lihat tab, dengar saja apa jawaban anak-anak ini, kita langsung paham dan bisa langsung kasih nilai,” tegasnya.
Tak hanya soal substansi penilaian, Harisson juga menyinggung bahasa tubuh dan ekspresi juri saat proses lomba berlangsung. Ia menilai hal tersebut menunjukkan adanya keraguan dalam mengambil keputusan.
“Coba perhatikan bahasa tubuh dan raut wajah jurinya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Harisson meminta agar ada rasa keadilan yang benar-benar dirasakan para peserta, terutama siswa SMA Negeri 1 Pontianak (Smansa) yang ikut dalam kompetisi tersebut.
Menurutnya, pengalaman dalam ajang seperti LCC 4 Pilar bisa membekas bagi para pelajar, sehingga proses penilaian harus dilakukan secara objektif dan profesional.
“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak Smansa. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” pesannya.
Ia menegaskan, LCC 4 Pilar bukan sekadar lomba biasa, melainkan kompetisi yang membawa nilai-nilai penting kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tutupnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini