Pontianak    

Usai Prancis, Giliran Jepang Lirik Pembangunan PLTN di Kalbar

Oleh : Jauhari Fatria
Thursday, 12 December 2019
Usai Prancis, Giliran Jepang Lirik Pembangunan PLTN di Kalbar
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KalbarOnline,

Pontianak – Sejumlah negara terus melirik rencana pembangunan Pembangkit

Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat. Terhitung sudah ada dua

negara yang telah melakukan komunikasi secara intens mengenai pembangunan PLTN

di Kalbar yakni Prancis dan Jepang yang mengirimkan perwakilannya untuk

berkomunikasi langsung dengan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.

Pada Rabu (11/12/2019) kemarin, Kedutaan Besar Jepang dan pihak

perusahaan Jaif International Cooperation Center (JICC) bertandang ke Kalbar

menemui Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji untuk membahas rencana

pembangunan PLTN di Kalbar. Sebelumnya pada Mei 2019 lalu, Duta Besar Prancis

untuk Indonesia, Jean Charles Berthonnet telah bertemu dengan Gubernur Kalimantan

Barat, Sutarmidji membahas hal serupa.

Diwawancarai usai pertemuan, Gubernur Sutarmidji mengatakan,

pertemuan tersebut dalam rangka membahas mengenai realisasi pembangunan PLTN.

“Selain dalam rangka sosialisasi, juga merencanakan hal-hal ke

depannya terkait pembangunan PLTN. Kemudian, bagaimana persiapannya, modelnya

bagaimana, yang paling aman bagaimana, jadi terus dibicarakan. Jangan hari ini

ngomong, nanti dibicarakan lagi tahun depan. Kapan mau realisasinya. Yang

intens dengan kita itu Jepang dan Prancis,” ujar Sutarmidji.

Orang nomor wahid di Bumi Tanjungpura ini berujar, yang

paling penting yakni bagaimana rencana pembangunan PLTN di Kalbar ini masuk

dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Dia harus masuk dalam RPJMN, nah itu yang harus

diperjuangkan,” ucapnya.

Di kesempatan itu, Midji juga mengungkapkan bahwa pada

pertemuan itu pihak dari Jepang memaparkan berbagai hal mengenai PLTN.

“Mereka memaparkan berbagai hal terkait PLTN ini, termasuk

meminimalisir dari dampak terburuk yang ada. Buktinya mereka bisa membangun

PLTN terapung dan sejauh ini sangat aman meski daerah Fukushima pernah

diterjang tsunami, namun pembangkit nuklir mereka masih aman sampai sekarang. Itu

kalau bicara dari sisi keamanan,” tukasnya.

“Jadi ini bicara soal kebutuhan akan energi yang murah.

Kalau tidak, kita tidak bisa mengolah sumber daya alam kita, kalau diolah orang

terus nanti kita jadi penonton, lalu marah. Kita mau mengolah sumber energi

tapi infrastrukturnya tidak ada, ketika mau bangun tidak bisa. Itu yang harus

kita selesaikan,” timpalnya.

Menurut Midji, sudah saatnya Indonesia mengikuti teknologi

terkini. Seperti salah satunya pembangkit listrik tenaga nuklir.

“Kita harus ikuti teknologi terkini, PLTN yang terapung

sudah ada. Artinya, jangan belum apa-apa sudah bilang bahaya dan sebagainya. Di

dunia kedokteran saja sudah menggunakan teknik nuklir, pertanian juga sudah.

Makanya hasil pertanian di negara-negara lain bagus dibandingkan kita,”

tandasnya.

Sementara Nakayama selaku Kedutaan Besar Jepang di Jakarta yang

didampingi Toba dan Takimoto dari JICC mengungkapkan bahwa yang pertama kali

melakukan pendekatan dengan pihaknya adalah Kalbar dalam rangka membahas

mengenai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.

“Sebenarnya yang pertama kali meng-approach kami adalah dari pihak Kalbar, karena ada ketertarikan

untuk rencana pembangunan PLTN. Jadi, kami masih menunggu keputusan Pemerintah

Indonesia apakah benar mau membangun PLTN atau tidak,” ujarnya.

Pihaknya menilai, Kalbar memiliki keseriusan yang sangat

tinggi dalam rangka pembangunan PLTN.

“Kami melihat keseriusan yang begitu tinggi di Kalbar untuk

membangun PLTN. Kami juga belum pernah bekerjasama dengan pihak lain atau

provinsi lain di Indonesia, sejauh ini baru Kalbar saja. Kalau kami lihat di Kantor

Gubernur ini tadi diberi kesempatan melihat ke sistem database yang begitu

canggih. Artinya dari segi SDM ada, hanya lokasi yang tepat untuk membangun itu

tentu harus disurvei lebih lanjut,” tukasnya.

Dijelaskannya pula, untuk lokasi sendiri, diperlukan daerah

yang dekat dengan sumber air. Pasalnya, kata dia, reaktor nulir memerlukan air

sebagai pendingin.

“Pastinya perlu di dekat air. Kalau di Jepang sendiri

kebanyakan PLTN pasti di pinggir laut. Kalau dilihat secara bangunan, tentu

pemilihan lokasi yang aman sangat diperlukan. Tentunya itu akan dilakukan studi,

pada umumnya Kalbar relatif tempat yang stabil, tsunami juga tidak ada, jadi

cocok, bagus di Kalbar ini,” tandasnya. (Fai)

Artikel Selanjutnya
Ria Norsan Ingatkan Pelaku Usaha Jual Kebutuhan Pokok Sesuai HET
Thursday, 12 December 2019
Artikel Sebelumnya
Jurnalis Ketapang Deklarasikan AJK
Thursday, 12 December 2019

Berita terkait