Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Jauhari Fatria |
| Thursday, 12 December 2019 |
KalbarOnline,
Pontianak – Sejumlah negara terus melirik rencana pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat. Terhitung sudah ada dua
negara yang telah melakukan komunikasi secara intens mengenai pembangunan PLTN
di Kalbar yakni Prancis dan Jepang yang mengirimkan perwakilannya untuk
berkomunikasi langsung dengan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.
Pada Rabu (11/12/2019) kemarin, Kedutaan Besar Jepang dan pihak
perusahaan Jaif International Cooperation Center (JICC) bertandang ke Kalbar
menemui Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji untuk membahas rencana
pembangunan PLTN di Kalbar. Sebelumnya pada Mei 2019 lalu, Duta Besar Prancis
untuk Indonesia, Jean Charles Berthonnet telah bertemu dengan Gubernur Kalimantan
Barat, Sutarmidji membahas hal serupa.
Diwawancarai usai pertemuan, Gubernur Sutarmidji mengatakan,
pertemuan tersebut dalam rangka membahas mengenai realisasi pembangunan PLTN.
“Selain dalam rangka sosialisasi, juga merencanakan hal-hal ke
depannya terkait pembangunan PLTN. Kemudian, bagaimana persiapannya, modelnya
bagaimana, yang paling aman bagaimana, jadi terus dibicarakan. Jangan hari ini
ngomong, nanti dibicarakan lagi tahun depan. Kapan mau realisasinya. Yang
intens dengan kita itu Jepang dan Prancis,” ujar Sutarmidji.
Orang nomor wahid di Bumi Tanjungpura ini berujar, yang
paling penting yakni bagaimana rencana pembangunan PLTN di Kalbar ini masuk
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
“Dia harus masuk dalam RPJMN, nah itu yang harus
diperjuangkan,” ucapnya.
Di kesempatan itu, Midji juga mengungkapkan bahwa pada
pertemuan itu pihak dari Jepang memaparkan berbagai hal mengenai PLTN.
“Mereka memaparkan berbagai hal terkait PLTN ini, termasuk
meminimalisir dari dampak terburuk yang ada. Buktinya mereka bisa membangun
PLTN terapung dan sejauh ini sangat aman meski daerah Fukushima pernah
diterjang tsunami, namun pembangkit nuklir mereka masih aman sampai sekarang. Itu
kalau bicara dari sisi keamanan,” tukasnya.
“Jadi ini bicara soal kebutuhan akan energi yang murah.
Kalau tidak, kita tidak bisa mengolah sumber daya alam kita, kalau diolah orang
terus nanti kita jadi penonton, lalu marah. Kita mau mengolah sumber energi
tapi infrastrukturnya tidak ada, ketika mau bangun tidak bisa. Itu yang harus
kita selesaikan,” timpalnya.
Menurut Midji, sudah saatnya Indonesia mengikuti teknologi
terkini. Seperti salah satunya pembangkit listrik tenaga nuklir.
“Kita harus ikuti teknologi terkini, PLTN yang terapung
sudah ada. Artinya, jangan belum apa-apa sudah bilang bahaya dan sebagainya. Di
dunia kedokteran saja sudah menggunakan teknik nuklir, pertanian juga sudah.
Makanya hasil pertanian di negara-negara lain bagus dibandingkan kita,”
tandasnya.
Sementara Nakayama selaku Kedutaan Besar Jepang di Jakarta yang
didampingi Toba dan Takimoto dari JICC mengungkapkan bahwa yang pertama kali
melakukan pendekatan dengan pihaknya adalah Kalbar dalam rangka membahas
mengenai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.
“Sebenarnya yang pertama kali meng-approach kami adalah dari pihak Kalbar, karena ada ketertarikan
untuk rencana pembangunan PLTN. Jadi, kami masih menunggu keputusan Pemerintah
Indonesia apakah benar mau membangun PLTN atau tidak,” ujarnya.
Pihaknya menilai, Kalbar memiliki keseriusan yang sangat
tinggi dalam rangka pembangunan PLTN.
“Kami melihat keseriusan yang begitu tinggi di Kalbar untuk
membangun PLTN. Kami juga belum pernah bekerjasama dengan pihak lain atau
provinsi lain di Indonesia, sejauh ini baru Kalbar saja. Kalau kami lihat di Kantor
Gubernur ini tadi diberi kesempatan melihat ke sistem database yang begitu
canggih. Artinya dari segi SDM ada, hanya lokasi yang tepat untuk membangun itu
tentu harus disurvei lebih lanjut,” tukasnya.
Dijelaskannya pula, untuk lokasi sendiri, diperlukan daerah
yang dekat dengan sumber air. Pasalnya, kata dia, reaktor nulir memerlukan air
sebagai pendingin.
“Pastinya perlu di dekat air. Kalau di Jepang sendiri
kebanyakan PLTN pasti di pinggir laut. Kalau dilihat secara bangunan, tentu
pemilihan lokasi yang aman sangat diperlukan. Tentunya itu akan dilakukan studi,
pada umumnya Kalbar relatif tempat yang stabil, tsunami juga tidak ada, jadi
cocok, bagus di Kalbar ini,” tandasnya. (Fai)
KalbarOnline,
Pontianak – Sejumlah negara terus melirik rencana pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat. Terhitung sudah ada dua
negara yang telah melakukan komunikasi secara intens mengenai pembangunan PLTN
di Kalbar yakni Prancis dan Jepang yang mengirimkan perwakilannya untuk
berkomunikasi langsung dengan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.
Pada Rabu (11/12/2019) kemarin, Kedutaan Besar Jepang dan pihak
perusahaan Jaif International Cooperation Center (JICC) bertandang ke Kalbar
menemui Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji untuk membahas rencana
pembangunan PLTN di Kalbar. Sebelumnya pada Mei 2019 lalu, Duta Besar Prancis
untuk Indonesia, Jean Charles Berthonnet telah bertemu dengan Gubernur Kalimantan
Barat, Sutarmidji membahas hal serupa.
Diwawancarai usai pertemuan, Gubernur Sutarmidji mengatakan,
pertemuan tersebut dalam rangka membahas mengenai realisasi pembangunan PLTN.
“Selain dalam rangka sosialisasi, juga merencanakan hal-hal ke
depannya terkait pembangunan PLTN. Kemudian, bagaimana persiapannya, modelnya
bagaimana, yang paling aman bagaimana, jadi terus dibicarakan. Jangan hari ini
ngomong, nanti dibicarakan lagi tahun depan. Kapan mau realisasinya. Yang
intens dengan kita itu Jepang dan Prancis,” ujar Sutarmidji.
Orang nomor wahid di Bumi Tanjungpura ini berujar, yang
paling penting yakni bagaimana rencana pembangunan PLTN di Kalbar ini masuk
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
“Dia harus masuk dalam RPJMN, nah itu yang harus
diperjuangkan,” ucapnya.
Di kesempatan itu, Midji juga mengungkapkan bahwa pada
pertemuan itu pihak dari Jepang memaparkan berbagai hal mengenai PLTN.
“Mereka memaparkan berbagai hal terkait PLTN ini, termasuk
meminimalisir dari dampak terburuk yang ada. Buktinya mereka bisa membangun
PLTN terapung dan sejauh ini sangat aman meski daerah Fukushima pernah
diterjang tsunami, namun pembangkit nuklir mereka masih aman sampai sekarang. Itu
kalau bicara dari sisi keamanan,” tukasnya.
“Jadi ini bicara soal kebutuhan akan energi yang murah.
Kalau tidak, kita tidak bisa mengolah sumber daya alam kita, kalau diolah orang
terus nanti kita jadi penonton, lalu marah. Kita mau mengolah sumber energi
tapi infrastrukturnya tidak ada, ketika mau bangun tidak bisa. Itu yang harus
kita selesaikan,” timpalnya.
Menurut Midji, sudah saatnya Indonesia mengikuti teknologi
terkini. Seperti salah satunya pembangkit listrik tenaga nuklir.
“Kita harus ikuti teknologi terkini, PLTN yang terapung
sudah ada. Artinya, jangan belum apa-apa sudah bilang bahaya dan sebagainya. Di
dunia kedokteran saja sudah menggunakan teknik nuklir, pertanian juga sudah.
Makanya hasil pertanian di negara-negara lain bagus dibandingkan kita,”
tandasnya.
Sementara Nakayama selaku Kedutaan Besar Jepang di Jakarta yang
didampingi Toba dan Takimoto dari JICC mengungkapkan bahwa yang pertama kali
melakukan pendekatan dengan pihaknya adalah Kalbar dalam rangka membahas
mengenai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.
“Sebenarnya yang pertama kali meng-approach kami adalah dari pihak Kalbar, karena ada ketertarikan
untuk rencana pembangunan PLTN. Jadi, kami masih menunggu keputusan Pemerintah
Indonesia apakah benar mau membangun PLTN atau tidak,” ujarnya.
Pihaknya menilai, Kalbar memiliki keseriusan yang sangat
tinggi dalam rangka pembangunan PLTN.
“Kami melihat keseriusan yang begitu tinggi di Kalbar untuk
membangun PLTN. Kami juga belum pernah bekerjasama dengan pihak lain atau
provinsi lain di Indonesia, sejauh ini baru Kalbar saja. Kalau kami lihat di Kantor
Gubernur ini tadi diberi kesempatan melihat ke sistem database yang begitu
canggih. Artinya dari segi SDM ada, hanya lokasi yang tepat untuk membangun itu
tentu harus disurvei lebih lanjut,” tukasnya.
Dijelaskannya pula, untuk lokasi sendiri, diperlukan daerah
yang dekat dengan sumber air. Pasalnya, kata dia, reaktor nulir memerlukan air
sebagai pendingin.
“Pastinya perlu di dekat air. Kalau di Jepang sendiri
kebanyakan PLTN pasti di pinggir laut. Kalau dilihat secara bangunan, tentu
pemilihan lokasi yang aman sangat diperlukan. Tentunya itu akan dilakukan studi,
pada umumnya Kalbar relatif tempat yang stabil, tsunami juga tidak ada, jadi
cocok, bagus di Kalbar ini,” tandasnya. (Fai)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini