Pontianak    

PGD 2026 Angkat Budaya Dayak Ketapang, Hadirkan Ritual Meminta Mencatu

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 13 May 2026
PGD 2026 Angkat Budaya Dayak Ketapang, Hadirkan Ritual Meminta Mencatu
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Pekan Gawai Dayak (PGD) 2026 di Pontianak akan mengangkat tradisi Dayak Kabupaten Ketapang sebagai tema utama. Berlangsung pada 20–24 Mei 2026 di Rumah Radakng, perayaan budaya ini akan menghadirkan ritual adat, pawai budaya, seminar, hingga delegasi dari Sarawak.

Wakil Ketua II PGD 2026, Maskendari mengatakan, pengangkatan budaya Dayak Ketapang bertujuan mengembalikan makna utama Gawai Dayak sebagai pesta panen yang sarat rasa syukur sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.

“Gawai Dayak itu pesta panen, di mana kita semua bersyukur karena sudah berladang panen dan memohon berkat untuk tahun panen berikutnya,” kata Maskendari, saat konferensi pers di Rumah Betang, Pontianak pada Rabu (13/05/2026)

Salah satu tradisi yang akan ditampilkan adalah ritual adat Dayak Jalay dari Ketapang, yakni prosesi “meminta mencatu”. Ritual ini merupakan doa adat untuk memohon berkat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi masyarakat.

Selain itu, PGD 2026 juga akan diawali dengan misa syukur sebagai simbol perpaduan nilai spiritual dan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat Dayak.

Ketua PGD 2026, Thomas Aleksander, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya sebatas seremoni atau hiburan, tetapi harus menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat adat.

“Budaya Dayak adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Ini bukan hanya soal tampilan budaya yang dibagikan di media sosial, tetapi bagaimana budaya itu tetap hidup dan dihargai,” ujarnya.

Menurut Thomas, tradisi adat Dayak merupakan warisan turun-temurun yang masih dijaga, mulai dari tingkat kampung hingga nasional. Lebih dari 30 sanggar budaya dijadwalkan ambil bagian dalam PGD 2026. Mereka akan menampilkan tarian tradisional, pertunjukan adat, serta keberagaman etnik di Kalimantan Barat.

Panitia juga menghadirkan seminar budaya sebagai ruang diskusi untuk membahas berbagai isu aktual terkait masyarakat adat dan kebudayaan.

“Seminar ini menjadi titik masuk untuk menjembatani berbagai persoalan aktual yang terjadi,” kata Thomas.

Wakil Ketua III PGD 2026, Alexandra Djaoeng, menambahkan bahwa display budaya akan digelar pada 20 Mei 2026 setelah pembukaan resmi PGD.

Pawai budaya dimulai dari Jalan Ahmad Yani, melintasi Jalan Veteran dan Jalan Gajah Mada, lalu kembali ke Rumah Radakng.

“Ini juga menjadi bentuk toleransi masyarakat Dayak di Kalbar terhadap semua etnis, suku, dan kelompok,” ujar Alexandra.

Tak hanya menjadi ajang budaya lokal, PGD 2026 juga akan dihadiri delegasi dari Sarawak, Malaysia. Kehadiran mereka diharapkan semakin mempererat hubungan budaya lintas negara. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Saksi Ungkap Perintah Teken Dokumen Navayo Berasal dari Eks Dirjen Kuathan dalam Sidang Kasus Satelit Kemhan
Wednesday, 13 May 2026
Artikel Sebelumnya
Pengamat Pendidikan Usul LCC 4 Pilar Kalbar Dianulir, Demi Keadilan dan Psikologis Siswa
Wednesday, 13 May 2026

Berita terkait