Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 13 May 2026 |
KALBARONLINE.com - Pekan Gawai Dayak (PGD) 2026 di Pontianak akan mengangkat tradisi Dayak Kabupaten Ketapang sebagai tema utama. Berlangsung pada 20–24 Mei 2026 di Rumah Radakng, perayaan budaya ini akan menghadirkan ritual adat, pawai budaya, seminar, hingga delegasi dari Sarawak.
Wakil Ketua II PGD 2026, Maskendari mengatakan, pengangkatan budaya Dayak Ketapang bertujuan mengembalikan makna utama Gawai Dayak sebagai pesta panen yang sarat rasa syukur sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.
“Gawai Dayak itu pesta panen, di mana kita semua bersyukur karena sudah berladang panen dan memohon berkat untuk tahun panen berikutnya,” kata Maskendari, saat konferensi pers di Rumah Betang, Pontianak pada Rabu (13/05/2026)
Salah satu tradisi yang akan ditampilkan adalah ritual adat Dayak Jalay dari Ketapang, yakni prosesi “meminta mencatu”. Ritual ini merupakan doa adat untuk memohon berkat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi masyarakat.
Selain itu, PGD 2026 juga akan diawali dengan misa syukur sebagai simbol perpaduan nilai spiritual dan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat Dayak.
Ketua PGD 2026, Thomas Aleksander, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya sebatas seremoni atau hiburan, tetapi harus menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat adat.
“Budaya Dayak adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Ini bukan hanya soal tampilan budaya yang dibagikan di media sosial, tetapi bagaimana budaya itu tetap hidup dan dihargai,” ujarnya.
Menurut Thomas, tradisi adat Dayak merupakan warisan turun-temurun yang masih dijaga, mulai dari tingkat kampung hingga nasional. Lebih dari 30 sanggar budaya dijadwalkan ambil bagian dalam PGD 2026. Mereka akan menampilkan tarian tradisional, pertunjukan adat, serta keberagaman etnik di Kalimantan Barat.
Panitia juga menghadirkan seminar budaya sebagai ruang diskusi untuk membahas berbagai isu aktual terkait masyarakat adat dan kebudayaan.
“Seminar ini menjadi titik masuk untuk menjembatani berbagai persoalan aktual yang terjadi,” kata Thomas.
Wakil Ketua III PGD 2026, Alexandra Djaoeng, menambahkan bahwa display budaya akan digelar pada 20 Mei 2026 setelah pembukaan resmi PGD.
Pawai budaya dimulai dari Jalan Ahmad Yani, melintasi Jalan Veteran dan Jalan Gajah Mada, lalu kembali ke Rumah Radakng.
“Ini juga menjadi bentuk toleransi masyarakat Dayak di Kalbar terhadap semua etnis, suku, dan kelompok,” ujar Alexandra.
Tak hanya menjadi ajang budaya lokal, PGD 2026 juga akan dihadiri delegasi dari Sarawak, Malaysia. Kehadiran mereka diharapkan semakin mempererat hubungan budaya lintas negara. (Lid)
KALBARONLINE.com - Pekan Gawai Dayak (PGD) 2026 di Pontianak akan mengangkat tradisi Dayak Kabupaten Ketapang sebagai tema utama. Berlangsung pada 20–24 Mei 2026 di Rumah Radakng, perayaan budaya ini akan menghadirkan ritual adat, pawai budaya, seminar, hingga delegasi dari Sarawak.
Wakil Ketua II PGD 2026, Maskendari mengatakan, pengangkatan budaya Dayak Ketapang bertujuan mengembalikan makna utama Gawai Dayak sebagai pesta panen yang sarat rasa syukur sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.
“Gawai Dayak itu pesta panen, di mana kita semua bersyukur karena sudah berladang panen dan memohon berkat untuk tahun panen berikutnya,” kata Maskendari, saat konferensi pers di Rumah Betang, Pontianak pada Rabu (13/05/2026)
Salah satu tradisi yang akan ditampilkan adalah ritual adat Dayak Jalay dari Ketapang, yakni prosesi “meminta mencatu”. Ritual ini merupakan doa adat untuk memohon berkat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi masyarakat.
Selain itu, PGD 2026 juga akan diawali dengan misa syukur sebagai simbol perpaduan nilai spiritual dan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat Dayak.
Ketua PGD 2026, Thomas Aleksander, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya sebatas seremoni atau hiburan, tetapi harus menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat adat.
“Budaya Dayak adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Ini bukan hanya soal tampilan budaya yang dibagikan di media sosial, tetapi bagaimana budaya itu tetap hidup dan dihargai,” ujarnya.
Menurut Thomas, tradisi adat Dayak merupakan warisan turun-temurun yang masih dijaga, mulai dari tingkat kampung hingga nasional. Lebih dari 30 sanggar budaya dijadwalkan ambil bagian dalam PGD 2026. Mereka akan menampilkan tarian tradisional, pertunjukan adat, serta keberagaman etnik di Kalimantan Barat.
Panitia juga menghadirkan seminar budaya sebagai ruang diskusi untuk membahas berbagai isu aktual terkait masyarakat adat dan kebudayaan.
“Seminar ini menjadi titik masuk untuk menjembatani berbagai persoalan aktual yang terjadi,” kata Thomas.
Wakil Ketua III PGD 2026, Alexandra Djaoeng, menambahkan bahwa display budaya akan digelar pada 20 Mei 2026 setelah pembukaan resmi PGD.
Pawai budaya dimulai dari Jalan Ahmad Yani, melintasi Jalan Veteran dan Jalan Gajah Mada, lalu kembali ke Rumah Radakng.
“Ini juga menjadi bentuk toleransi masyarakat Dayak di Kalbar terhadap semua etnis, suku, dan kelompok,” ujar Alexandra.
Tak hanya menjadi ajang budaya lokal, PGD 2026 juga akan dihadiri delegasi dari Sarawak, Malaysia. Kehadiran mereka diharapkan semakin mempererat hubungan budaya lintas negara. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini