Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 02 May 2026 |
KALBARONLINE.com - Bermula dari niatnya sebagai sedekah amal jariah untuk mendiang suami, Sarah (39 tahun) warga Pontianak, menyulap pekarangan rumahnya menjadi usaha bisnis bibit sayur dan buah organik.
Usaha yang diberi nama "Kebun Ala-ala" itu berlokasi di Jalan M. Sohor, Gang Sederhana, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Pontianak Selatan.
Di balik usaha kecil ini, ada cerita yang cukup menyentuh. Sarah mengaku, bisnis ini berawal dari niat pribadi untuk bersedekah jariah atas nama sang suami yang telah meninggal dunia pada tahun 2024 lalu.
“Awalnya saya ingin ada amal jariah untuk suami. Jadi saya berharap dari hasil usaha ini, sebagian bisa disedekahkan untuk beliau,” ujarnya.
Ia mulai merintis usahanya pada Desember 2025, meski tanpa latar belakang di bidang pertanian. Bahkan, Sarah menyebut dirinya belajar secara otodidak melalui media sosial hingga bantuan teknologi seperti ChatGPT.
“Basic saya bukan pertanian, saya belajar dari nol. Dari internet, TikTok, sampai ChatGPT juga,” katanya.
Berbagai jenis bibit dijual oleh Sarah, ada tomat dengan beragam varietas, cabai rawit, terong berbagai jenis, okra, bayam merah, hingga kale. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 50.000 per bibit, tergantung jenis dan ukuran.
Dari sekian banyak pilihan, bibit cabai rawit, tomat, dan terong menjadi yang paling laris di pasaran.
Dalam sebulan, Sarah mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp 3 juta. Bibit yang terjual pun sudah mencapai lebih dari seribu sejak awal usaha berjalan.
Meski begitu, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Faktor cuaca menjadi tantangan utama. Hujan deras bisa merusak bibit, sementara panas ekstrem membuat tanaman cepat kering dan mati.
“Kalau hujan deras, bibit bisa patah atau akarnya busuk. Kalau panas terik, daunnya bisa kering,” jelasnya.
Selain itu, beberapa tanaman seperti cabai juga rentan terhadap hama, sehingga membutuhkan perhatian ekstra dalam perawatan.
Untuk pemasaran, Sarah mengandalkan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Threads dengan nama “Kebun Ala-ala”. Pembelinya pun beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga aparat.
Ke depan, Sarah berharap usahanya bisa berkembang, bahkan hingga menjual hasil panen sayur dan buah, jika lahan yang dimiliki bisa diperluas. Sebagian keuntungan dari usaha ini pun rencananya akan disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti membantu panti asuhan, anak yatim, hingga pembangunan masjid. (Lid)
KALBARONLINE.com - Bermula dari niatnya sebagai sedekah amal jariah untuk mendiang suami, Sarah (39 tahun) warga Pontianak, menyulap pekarangan rumahnya menjadi usaha bisnis bibit sayur dan buah organik.
Usaha yang diberi nama "Kebun Ala-ala" itu berlokasi di Jalan M. Sohor, Gang Sederhana, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Pontianak Selatan.
Di balik usaha kecil ini, ada cerita yang cukup menyentuh. Sarah mengaku, bisnis ini berawal dari niat pribadi untuk bersedekah jariah atas nama sang suami yang telah meninggal dunia pada tahun 2024 lalu.
“Awalnya saya ingin ada amal jariah untuk suami. Jadi saya berharap dari hasil usaha ini, sebagian bisa disedekahkan untuk beliau,” ujarnya.
Ia mulai merintis usahanya pada Desember 2025, meski tanpa latar belakang di bidang pertanian. Bahkan, Sarah menyebut dirinya belajar secara otodidak melalui media sosial hingga bantuan teknologi seperti ChatGPT.
“Basic saya bukan pertanian, saya belajar dari nol. Dari internet, TikTok, sampai ChatGPT juga,” katanya.
Berbagai jenis bibit dijual oleh Sarah, ada tomat dengan beragam varietas, cabai rawit, terong berbagai jenis, okra, bayam merah, hingga kale. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 50.000 per bibit, tergantung jenis dan ukuran.
Dari sekian banyak pilihan, bibit cabai rawit, tomat, dan terong menjadi yang paling laris di pasaran.
Dalam sebulan, Sarah mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp 3 juta. Bibit yang terjual pun sudah mencapai lebih dari seribu sejak awal usaha berjalan.
Meski begitu, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Faktor cuaca menjadi tantangan utama. Hujan deras bisa merusak bibit, sementara panas ekstrem membuat tanaman cepat kering dan mati.
“Kalau hujan deras, bibit bisa patah atau akarnya busuk. Kalau panas terik, daunnya bisa kering,” jelasnya.
Selain itu, beberapa tanaman seperti cabai juga rentan terhadap hama, sehingga membutuhkan perhatian ekstra dalam perawatan.
Untuk pemasaran, Sarah mengandalkan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Threads dengan nama “Kebun Ala-ala”. Pembelinya pun beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga aparat.
Ke depan, Sarah berharap usahanya bisa berkembang, bahkan hingga menjual hasil panen sayur dan buah, jika lahan yang dimiliki bisa diperluas. Sebagian keuntungan dari usaha ini pun rencananya akan disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti membantu panti asuhan, anak yatim, hingga pembangunan masjid. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini