Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 22 April 2026 |
KALBARONLINE.com - Tradisi Naik Dango ke-3 Kota Pontianak yang digelar di Rumah Radakng resmi dimulai. Berbagai kegiatan dan lomba turut memeriahkan agenda budaya tahunan ini, salah satunya lomba meraut pabayo.
Pabayo atau pebayu merupakan rumbai hasil rautan bambu atau kayu yang digunakan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat. Pabayo dipasang di tanah sebagai penanda adanya upacara adat atau pesta gawai, sekaligus melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan penghormatan kepada leluhur.
Sajem, salah satu juri lomba mengatakan, bahwa keberadaan perajin pabayo saat ini semakin berkurang, terutama dari kalangan generasi muda.
“Pabayo ini merupakan alat ritual suku Dayak yang selalu digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Namun sekarang, generasi muda yang bisa membuatnya sudah mulai berkurang,” ujarnya, Rabu (22/04/2026).
Sebab itu, kata Sajem, melalui lomba meraut pabayo dalam Naik Dango tahun ini, diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan tradisi tersebut.
“Sekarang peraut pabayo berkurang, maka panitia naik dango untuk tahun ini memperlombakan supaya haraoanya bahwa generasi muda berminat membuatnya,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap pabayo memiliki bentuk dan tingkatan yang berbeda, tergantung pada jenis ritual yang dilaksanakan, seperti untuk pengobatan, pembangunan rumah, hingga pesta gawai.
Menurutnya, proses pembuatan pabayo tidak mudah karena membutuhkan keterampilan khusus dalam meraut bambu agar tidak putus dan menghasilkan bentuk bergelombang yang indah serta memiliki nilai seni.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita, mengapresiasi inisiatif panitia yang memasukkan lomba meraut pabayo sebagai salah satu rangkaian kegiatan festival.
Ia menilai, langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya Dayak yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat.
“Ini adalah upaya untuk mengenalkan sekaligus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar bisa belajar meraut pabayo sebagai bagian dari tradisi suku Dayak,” katanya.
Rita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perubahan zaman.
“Memang saat ini minat anak muda terhadap tradisi ini mulai berkurang. Karena itu, melalui berbagai event budaya, kita dorong agar tradisi seperti meraut pabayo tetap hidup dan tidak ditinggalkan,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Tradisi Naik Dango ke-3 Kota Pontianak yang digelar di Rumah Radakng resmi dimulai. Berbagai kegiatan dan lomba turut memeriahkan agenda budaya tahunan ini, salah satunya lomba meraut pabayo.
Pabayo atau pebayu merupakan rumbai hasil rautan bambu atau kayu yang digunakan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat. Pabayo dipasang di tanah sebagai penanda adanya upacara adat atau pesta gawai, sekaligus melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan penghormatan kepada leluhur.
Sajem, salah satu juri lomba mengatakan, bahwa keberadaan perajin pabayo saat ini semakin berkurang, terutama dari kalangan generasi muda.
“Pabayo ini merupakan alat ritual suku Dayak yang selalu digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Namun sekarang, generasi muda yang bisa membuatnya sudah mulai berkurang,” ujarnya, Rabu (22/04/2026).
Sebab itu, kata Sajem, melalui lomba meraut pabayo dalam Naik Dango tahun ini, diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan tradisi tersebut.
“Sekarang peraut pabayo berkurang, maka panitia naik dango untuk tahun ini memperlombakan supaya haraoanya bahwa generasi muda berminat membuatnya,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap pabayo memiliki bentuk dan tingkatan yang berbeda, tergantung pada jenis ritual yang dilaksanakan, seperti untuk pengobatan, pembangunan rumah, hingga pesta gawai.
Menurutnya, proses pembuatan pabayo tidak mudah karena membutuhkan keterampilan khusus dalam meraut bambu agar tidak putus dan menghasilkan bentuk bergelombang yang indah serta memiliki nilai seni.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita, mengapresiasi inisiatif panitia yang memasukkan lomba meraut pabayo sebagai salah satu rangkaian kegiatan festival.
Ia menilai, langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya Dayak yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat.
“Ini adalah upaya untuk mengenalkan sekaligus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar bisa belajar meraut pabayo sebagai bagian dari tradisi suku Dayak,” katanya.
Rita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perubahan zaman.
“Memang saat ini minat anak muda terhadap tradisi ini mulai berkurang. Karena itu, melalui berbagai event budaya, kita dorong agar tradisi seperti meraut pabayo tetap hidup dan tidak ditinggalkan,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini