Pontianak    

Lima Kampung Iklim Pontianak Raih Penghargaan KLH, Kampung Gambut Siantan Hilir Sabet Proklim Utama Trophy

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 20 May 2026
Lima Kampung Iklim Pontianak Raih Penghargaan KLH, Kampung Gambut Siantan Hilir Sabet Proklim Utama Trophy
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyerahkan Penghargaan Proklim Utama Trophy kepada perwakilan Kampung Gambut usai Apel Hari Kebangkitan Nasional di Halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Rabu (20/5/2026) (Foto: Prokopim For KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Komitmen warga menjaga lingkungan akhirnya berbuah manis. Sebanyak lima kawasan di Kota Pontianak berhasil meraih penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Dari lima kawasan tersebut, RW 33 Kampung Gambut, Kelurahan Siantan Hilir, sukses membawa pulang penghargaan tertinggi kategori Proklim Utama Trophy. Sementara RW 27 Kampung Tangguh Penggerak Kesadaran Lingkungan, Kelurahan Siantan Hulu dan RW 15 Kampung Tenun, Kelurahan Batulayang masing-masing meraih penghargaan Proklim Utama.

Sedangkan dua kawasan lainnya, yakni RW 21 Kelurahan Sungai Jawi Dalam dan RW 10 Kelurahan Pal Lima mendapat penghargaan kategori Proklim Madya.

Ketua Pokdarwis Kampung Gambut Siantan Hilir, Misra’i mengatakan, pencapaian tersebut lahir dari gerakan kolektif masyarakat yang selama ini konsisten menjaga lingkungan sekitar.

Menurutnya, warga mulai membangun kesadaran untuk memperbaiki kampung melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari pengelolaan sampah, pertanian ramah lingkungan, peningkatan kapasitas SDM, hingga pengembangan wisata edukasi berbasis lingkungan.

“Awalnya kami merasa kampung ini tertinggal dibanding daerah lain. Dari situ kami mulai mengumpulkan rekan-rekan untuk bergerak bersama mengenalkan potensi Kampung Gambut,” ujarnya usai menerima penghargaan dari Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, Rabu (20/5/2026).

Sebagai kawasan yang bertumpu pada sektor pertanian sayur-mayur, warga Kampung Gambut juga mulai menerapkan metode alami untuk menjaga tanaman. Salah satunya dengan memperbanyak tanaman bunga di sekitar lahan pertanian sebagai pengalih hama alami.

Selain membantu para petani, kawasan kampung juga menjadi terlihat lebih asri dan menarik.

Tak cuma itu, warga juga mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk hingga limbah sayuran yang dimanfaatkan menjadi gas alternatif untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun saat ini produksinya masih terbatas karena keterbatasan alat dan bahan baku.

“Untuk sekarang baru bisa digunakan sekitar enam rumah karena alat dan bahan bakunya masih terbatas,” jelas Misra’i.

Kampung Gambut kini juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan di Pontianak. Pengunjung, mulai dari anak TK, pelajar sekolah dasar hingga mahasiswa, bisa belajar langsung soal pertanian bersama warga.

Mereka diajak mengenal proses menanam, merawat hingga memanen sayuran secara langsung di lapangan.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kampung Gambut tercatat telah menerima lebih dari 2.000 pengunjung. Bahkan wisatawan asal Kanada juga pernah datang untuk meneliti kondisi air di kawasan tersebut.

Menariknya lagi, perubahan pola hidup masyarakat yang semakin peduli lingkungan juga mulai berdampak pada ekosistem sekitar. Satwa yang sebelumnya sempat menghilang kini mulai kembali terlihat di kawasan kampung.

“Dulu beberapa satwa sempat hilang. Tapi setelah masyarakat mulai menjaga lingkungan dan pola hidup berubah, reptil-reptil mulai muncul lagi,” katanya.

Selain aktivitas pertanian dan pengelolaan sampah, warga juga menjaga kawasan hutan kecil seluas sekitar 1,5 hektare sebagai area resapan air dan habitat satwa.

Sementara itu, Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, M Yamin menyebut program kampung iklim menjadi bagian dari komitmen Pemkot Pontianak dalam membangun lingkungan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Perubahan iklim ini sudah menjadi isu global dan program nasional. Karena itu kita mulai dari lingkungan terkecil, dari kampung,” ujarnya.

Menurut Yamin, konsep kampung iklim bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan rumah, budidaya ikan, bercocok tanam hingga pengembangan ekonomi keluarga berbasis lingkungan.

Dalam dua tahun terakhir, Kota Pontianak memang cukup konsisten melahirkan kampung iklim yang mendapat pengakuan pemerintah pusat. Pada 2024 lalu, RW 38 Kelurahan Sungai Jawi dan RW 15 Kelurahan Bangka Belitung Laut juga berhasil meraih penghargaan kategori Utama. Sedangkan pada 2023, penghargaan kategori Madya diraih Kelurahan Bansir Laut dan Siantan Tengah.

“Disitu masyarakat bisa beternak ikan, bercocok tanam, dan membangun ekosistem kecil di lingkungan masing-masing. Ini juga bisa mendukung ekonomi keluarga,” tutup Yamin. (*)

Artikel Selanjutnya
Pemkab Melawi Belajar Persiapan MTQ ke Kapuas Hulu, Bahas Strategi Sukses MTQ Kalbar 2028
Tuesday, 19 May 2026
Artikel Sebelumnya
Proyek Pembangunan Kantor Bupati Kapuas Hulu Satap Hilangkan Aset Sejarah Dua Meriam Peninggalan VOC
Tuesday, 19 May 2026

Berita terkait