Pontianak    

Dari Hobi Jadi Rezeki, Pengerajin Manik Dayak Asal Kapuas Hulu Ini Tembus Pasar Kuching hingga Brunei

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Thursday, 14 May 2026
Dari Hobi Jadi Rezeki, Pengerajin Manik Dayak Asal Kapuas Hulu Ini Tembus Pasar Kuching hingga Brunei
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Kerajinan manik-manik khas Dayak tak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Hal itu dirasakan langsung oleh Maria, pengrajin asal Kapuas Hulu binaan Dekranasda Kalbar, yang telah menekuni usaha tersebut selama belasan tahun.

Di tangan Maria, butiran manik-manik yang dirangkai menjadi kalung, gelang hingga hiasan baju adat dayak bukan sekadar aksesori biasa, tetapi memiliki nilai jual yang tinggi bahkan telah dipasarkan sampai ke luar negeri.

Maria mengaku, usaha kerajinan manik-manik yang digelutinya sudah berjalan belasan tahun. Awalnya, aktivitas tersebut hanya sekadar hobi untuk mengisi waktu luang di rumah.

“Mulainya dari hobi saja, lama-lama ditekuni. Sudah belasan tahun,” ujarnya, Kamis (14/05/2026).

Kerajinan itu juga bukan hal baru bagi keluarganya. Maria mengatakan, keterampilan merangkai manik diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya.

“Ini memang turun-temurun dari nenek, lalu ke mamak, kemudian ke saya,” katanya.

Berbagai hasil kerajinan buatannya kini tidak hanya dikenal di Kalimantan Barat, tetapi juga sudah dipasarkan ke sejumlah wilayah di luar negeri seperti Kuching dan Sabah di Malaysia hingga Brunei Darussalam. Menurut Maria, pemesanan paling sering datang dari Kuching.

Maria menyebut usaha ini cukup membantu perekonomian keluarganya. Terlebih, pekerjaan merangkai manik dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga di sela-sela aktivitas sehari-hari.

“Awalnya hanya mengisi waktu luang, tapi lama-lama ternyata menghasilkan dan cukup menjanjikan,” ungkapnya.

Pendapatan yang diperoleh pun tergantung jumlah pesanan dan kegiatan budaya yang berlangsung. Saat banyak event, permintaan kerajinan manik biasanya ikut meningkat.

Tak hanya memiliki nilai ekonomi, manik-manik khas Dayak juga menyimpan makna budaya dan filosofi tersendiri. Menurut Maria, dalam kepercayaan masyarakat Dayak, beberapa motif memiliki ritual dan arti khusus.

“Salah satunya motif pucuk pakis. Pakis itu mudah tumbuh walau tanpa dipupuk, jadi melambangkan kehidupan dan kelestarian. Motif ini juga khas Kalimantan,” tuturnya. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Warga Antusias Sambut AVC Men’s Champions League 2026 di Pontianak
Wednesday, 13 May 2026
Artikel Sebelumnya
Cegah Penularan Seoul Virus, Dinkes Kayong Utara Perkuat Sistem Kewaspadaan Dini
Wednesday, 13 May 2026

Berita terkait