Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 13 April 2026 |
KALBARONLINE.com - Upaya memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat terus didorong Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat (Kalbar). Salah satunya dengan mengorganisir para penambang speed di kawasan Sungai Kapuas menjadi kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita mengatakan, Kota Pontianak memiliki potensi wisata unggulan yang selama ini belum dimaksimalkan secara terstruktur, khususnya di kawasan Sungai Kapuas.
Menurutnya, para penambang speed di Pangkalan Seduit selama ini tidak hanya berperan sebagai motoris transportasi sungai, tetapi juga telah menjadi bagian penting dalam mengantar wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Kota Pontianak ini punya destinasi wisata menarik yakni Sungai Kapuas. Selama ini kawan-kawan penambang speed di Pangkalan Seduit bukan hanya sebagai motoris, tetapi juga membawa wisatawan,” ujarnya.
Melihat potensi tersebut, Disporapar Kalbar berinisiatif mengorganisir para penambang dalam satu wadah kelompok sadar wisata agar lebih tertata dan profesional.
“Alhamdulillah mereka setuju untuk dibentuk sebagai kelompok sadar wisata. Nanti kami akan lakukan pembinaan dan pembimbingan untuk peningkatan sumber daya manusia,” jelas Rita.
Pembinaan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari edukasi kepariwisataan, standar pelayanan, hingga aspek keamanan dan keselamatan bagi wisatawan.
Selain itu, pemerintah juga akan membantu meningkatkan daya tarik armada speed, termasuk melalui dukungan mitra untuk perbaikan tampilan seperti pengecatan serta penguatan kualitas layanan kepada penumpang.
“Kami juga akan membantu mencarikan mitra pendamping agar speed mereka lebih menarik, serta membimbing bagaimana melayani wisatawan dengan baik,” tambahnya.
Langkah awal yang akan dilakukan adalah pembentukan struktur kepengurusan Pokdarwis, dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan kompetensi serta penguatan sarana dan prasarana.
Tak hanya itu, Disporapar Kalbar juga akan mendampingi penambang dalam menyusun paket wisata lengkap beserta skema tarif yang terstandarisasi.
“Kami akan ajari bagaimana membuat paket wisata, menentukan tarif yang sesuai, dan mengelola layanan secara profesional,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu penambang speed, Sandi Fikriansyah, menyambut baik rencana tersebut. Ia mengaku telah menekuni profesi sebagai penambang sejak kecil, mengikuti jejak orang tuanya.
“Saya menjadi penambang sejak kecil, dari sebelum sekolah sudah ikut orang tua. Mulai tahun 2009 sampai sekarang,” tuturnya.
Dari aktivitas tersebut, penghasilan yang diperoleh masih tergolong terbatas. Dalam sehari, ia hanya bisa mengantongi sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu, itu pun belum dipotong biaya operasional seperti bahan bakar, makan, dan kebutuhan lainnya.
“Kalau ramai bisa dapat Rp 100 ribu, kalau sepi sekitar Rp 80 ribu. Itu belum dipotong biaya,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi dengan pemerintah dapat membuka peluang baru, khususnya dalam meningkatkan sektor pariwisata sungai yang selama ini menjadi ikon Kota Pontianak.
“Dengan adanya program ini, kami sangat bersyukur karena bisa mendukung pariwisata. Ini akan berdampak pada penambang juga,” katanya.
Sandi menyebut, wisata susur Sungai Kapuas memiliki daya tarik tersendiri karena dapat menghubungkan berbagai destinasi ikonik di Pontianak, seperti Istana Kadriah, Jembatan Kapuas, makam sultan, Tugu Khatulistiwa, hingga Alun-alun Kapuas.
“Sebagian besar penumpang kami sekitar 75 persen masih warga lokal untuk aktivitas harian. Sisanya sekitar 25 persen wisatawan, baik dari luar kota maupun mancanegara,” jelasnya.
Dengan adanya penguatan kelembagaan melalui Pokdarwis, diharapkan potensi wisata Sungai Kapuas dapat dikelola lebih optimal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para penambang sebagai pelaku utama di lapangan. (Lid)
KALBARONLINE.com - Upaya memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat terus didorong Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat (Kalbar). Salah satunya dengan mengorganisir para penambang speed di kawasan Sungai Kapuas menjadi kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita mengatakan, Kota Pontianak memiliki potensi wisata unggulan yang selama ini belum dimaksimalkan secara terstruktur, khususnya di kawasan Sungai Kapuas.
Menurutnya, para penambang speed di Pangkalan Seduit selama ini tidak hanya berperan sebagai motoris transportasi sungai, tetapi juga telah menjadi bagian penting dalam mengantar wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Kota Pontianak ini punya destinasi wisata menarik yakni Sungai Kapuas. Selama ini kawan-kawan penambang speed di Pangkalan Seduit bukan hanya sebagai motoris, tetapi juga membawa wisatawan,” ujarnya.
Melihat potensi tersebut, Disporapar Kalbar berinisiatif mengorganisir para penambang dalam satu wadah kelompok sadar wisata agar lebih tertata dan profesional.
“Alhamdulillah mereka setuju untuk dibentuk sebagai kelompok sadar wisata. Nanti kami akan lakukan pembinaan dan pembimbingan untuk peningkatan sumber daya manusia,” jelas Rita.
Pembinaan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari edukasi kepariwisataan, standar pelayanan, hingga aspek keamanan dan keselamatan bagi wisatawan.
Selain itu, pemerintah juga akan membantu meningkatkan daya tarik armada speed, termasuk melalui dukungan mitra untuk perbaikan tampilan seperti pengecatan serta penguatan kualitas layanan kepada penumpang.
“Kami juga akan membantu mencarikan mitra pendamping agar speed mereka lebih menarik, serta membimbing bagaimana melayani wisatawan dengan baik,” tambahnya.
Langkah awal yang akan dilakukan adalah pembentukan struktur kepengurusan Pokdarwis, dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan kompetensi serta penguatan sarana dan prasarana.
Tak hanya itu, Disporapar Kalbar juga akan mendampingi penambang dalam menyusun paket wisata lengkap beserta skema tarif yang terstandarisasi.
“Kami akan ajari bagaimana membuat paket wisata, menentukan tarif yang sesuai, dan mengelola layanan secara profesional,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu penambang speed, Sandi Fikriansyah, menyambut baik rencana tersebut. Ia mengaku telah menekuni profesi sebagai penambang sejak kecil, mengikuti jejak orang tuanya.
“Saya menjadi penambang sejak kecil, dari sebelum sekolah sudah ikut orang tua. Mulai tahun 2009 sampai sekarang,” tuturnya.
Dari aktivitas tersebut, penghasilan yang diperoleh masih tergolong terbatas. Dalam sehari, ia hanya bisa mengantongi sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu, itu pun belum dipotong biaya operasional seperti bahan bakar, makan, dan kebutuhan lainnya.
“Kalau ramai bisa dapat Rp 100 ribu, kalau sepi sekitar Rp 80 ribu. Itu belum dipotong biaya,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi dengan pemerintah dapat membuka peluang baru, khususnya dalam meningkatkan sektor pariwisata sungai yang selama ini menjadi ikon Kota Pontianak.
“Dengan adanya program ini, kami sangat bersyukur karena bisa mendukung pariwisata. Ini akan berdampak pada penambang juga,” katanya.
Sandi menyebut, wisata susur Sungai Kapuas memiliki daya tarik tersendiri karena dapat menghubungkan berbagai destinasi ikonik di Pontianak, seperti Istana Kadriah, Jembatan Kapuas, makam sultan, Tugu Khatulistiwa, hingga Alun-alun Kapuas.
“Sebagian besar penumpang kami sekitar 75 persen masih warga lokal untuk aktivitas harian. Sisanya sekitar 25 persen wisatawan, baik dari luar kota maupun mancanegara,” jelasnya.
Dengan adanya penguatan kelembagaan melalui Pokdarwis, diharapkan potensi wisata Sungai Kapuas dapat dikelola lebih optimal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para penambang sebagai pelaku utama di lapangan. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini