Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Sunday, 03 May 2026 |
KALBARONLINE.com – Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengapresiasi terselenggaranya Festival Mattompang yang dinilai sebagai langkah nyata melestarikan budaya sekaligus memperkuat identitas serta nilai-nilai adat Bugis di Kota Pontianak.
Festival Mattompang juga disebut menjadi bagian penting dalam memperkaya khazanah budaya Pontianak sebagai kota multikultural yang dihuni beragam etnis.
Tradisi Mattompang Benda Pusaka sendiri merupakan ritual budaya Bugis yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Menurut Bahasan, tradisi tersebut menjadi simbol kuat ketahanan budaya masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.
“Ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan identitas budaya,” ujarnya usai membuka Festival Mattompang di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) malam.
Ia menilai komunitas etnis memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan dan persatuan di Kota Pontianak. Sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman, Pontianak tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai suku bangsa, termasuk etnis Bugis.
“Kota Pontianak tidak terlepas dari peran berbagai etnis, termasuk Bugis, yang telah mewarnai sejarah dan pembangunan kota ini,” katanya.
Bahasan menjelaskan, dengan luas wilayah sekitar 118,40 kilometer persegi dan jumlah penduduk kurang lebih 692 ribu jiwa, Pontianak menjadi rumah bersama bagi banyak komunitas. Saat ini, terdapat sekitar 28 paguyuban etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih.
Menurutnya, keberadaan paguyuban tersebut ikut memperkuat komunikasi dan menjaga keharmonisan antaretnis di Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak juga rutin memfasilitasi pertemuan bulanan melalui kegiatan coffee morning untuk membahas berbagai isu sekaligus mempererat silaturahmi.
“Ini dilakukan untuk memastikan seluruh komunitas tetap berada dalam bingkai kerukunan dan persatuan,” jelasnya.
Selain itu, Bahasan mengungkapkan bahwa Pontianak baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu kota toleran di Indonesia, meski masih berada dalam tahap konsolidasi.
Ia mengakui masih ada sejumlah tantangan, termasuk perbedaan pandangan di tengah masyarakat yang harus dikelola dengan bijak.
“Kita berharap ke depan setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog dan diskusi, bukan dengan penolakan,” tegasnya.
Bahasan juga menekankan pentingnya menjaga warisan sejarah, termasuk kontribusi tokoh Bugis pada masa lalu yang memiliki peran dalam menyelesaikan konflik kerajaan.
“Sejarah ini harus kita rawat bersama sebagai bagian dari identitas dan persatuan kita,” pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengapresiasi terselenggaranya Festival Mattompang yang dinilai sebagai langkah nyata melestarikan budaya sekaligus memperkuat identitas serta nilai-nilai adat Bugis di Kota Pontianak.
Festival Mattompang juga disebut menjadi bagian penting dalam memperkaya khazanah budaya Pontianak sebagai kota multikultural yang dihuni beragam etnis.
Tradisi Mattompang Benda Pusaka sendiri merupakan ritual budaya Bugis yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Menurut Bahasan, tradisi tersebut menjadi simbol kuat ketahanan budaya masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.
“Ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan identitas budaya,” ujarnya usai membuka Festival Mattompang di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) malam.
Ia menilai komunitas etnis memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan dan persatuan di Kota Pontianak. Sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman, Pontianak tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai suku bangsa, termasuk etnis Bugis.
“Kota Pontianak tidak terlepas dari peran berbagai etnis, termasuk Bugis, yang telah mewarnai sejarah dan pembangunan kota ini,” katanya.
Bahasan menjelaskan, dengan luas wilayah sekitar 118,40 kilometer persegi dan jumlah penduduk kurang lebih 692 ribu jiwa, Pontianak menjadi rumah bersama bagi banyak komunitas. Saat ini, terdapat sekitar 28 paguyuban etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih.
Menurutnya, keberadaan paguyuban tersebut ikut memperkuat komunikasi dan menjaga keharmonisan antaretnis di Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak juga rutin memfasilitasi pertemuan bulanan melalui kegiatan coffee morning untuk membahas berbagai isu sekaligus mempererat silaturahmi.
“Ini dilakukan untuk memastikan seluruh komunitas tetap berada dalam bingkai kerukunan dan persatuan,” jelasnya.
Selain itu, Bahasan mengungkapkan bahwa Pontianak baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu kota toleran di Indonesia, meski masih berada dalam tahap konsolidasi.
Ia mengakui masih ada sejumlah tantangan, termasuk perbedaan pandangan di tengah masyarakat yang harus dikelola dengan bijak.
“Kita berharap ke depan setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog dan diskusi, bukan dengan penolakan,” tegasnya.
Bahasan juga menekankan pentingnya menjaga warisan sejarah, termasuk kontribusi tokoh Bugis pada masa lalu yang memiliki peran dalam menyelesaikan konflik kerajaan.
“Sejarah ini harus kita rawat bersama sebagai bagian dari identitas dan persatuan kita,” pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini