Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : adminkalbaronline |
| Tuesday, 09 September 2025 |
KALBARONLINE.com - Sejumlah warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengeluhkan praktik nakal penjual elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram eceran, yang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan gas sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Salah satunya Supri (61 tahun), warga Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat. Ia mengaku kerap kesulitan membeli gas di eceran terdekat rumahnya, dan terpaksa mengantri di pangkalan resmi Pertamina tepatnya di SPBU Jalan Martadinata, Selasa (09/09/2025).
“Pangkalan di depan gang saya nggak dapat (gas). Pangkalan sebenarnya nggak langka, cuman penjual itu nggak benar. Gas nggak mungkin langka,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, penjual gas eceran dekat rumahnya menerima pasokan hingga 300 tabung per minggu. Namun, ketersediaan tersebut tidak dirasakan warga sekitar.
“Pangkalan dekat rumah saya itu katakanlah dapat stok (gas) 300 tabung dalam seminggu, masa tidak bisa melayani 100 orang? Kan tidak mungkin. Penjualnya nakal, harga yang mereka jual pun berbeda dengan pangkalan resmi,” ujarnya.
Supri menyebut, harga di pangkalan resmi hanya Rp 18.500 per tabung, sementara di eceran dekat rumahnya bisa mencapai Rp 19.000 hingga Rp 25.000. Ia juga menilai, penyaluran gas 3 Kg tidak merata karena banyak pangkalan justru melayani pembeli dari luar wilayah.
“Harapan saya ke depan, penjualan harus sesuai aturan, satu KTP satu tabung, supaya adil untuk warga sekitar,” tambahnya.
Sementara itu, Vale, salah satu pengantar gas LPG 3 kg dari agen resmi di Pontianak mengatakan, pihaknya hanya mengantarkan pasokan ke pangkalan. Mekanisme distribusi ke warga selanjutnya diatur sesuai kebijakan Pertamina.
“Kalau di sini khusus untuk warga setempat. Syaratnya jelas, satu orang satu tabung dengan menunjukkan KTP. Itu aturan dari Pertamina, supaya pembagian lebih merata,” jelas Vale.
Ia menambahkan, ketersediaan gas memang mengalami pasang surut. Pada momen tertentu, permintaan kadang meningkat sehingga masyarakat sulit mendapatkan tabung.
“Kalau langka itu sudah biasa, seperti ada musimnya. Saat orang ramai beli, jadi terasa sulit. Tapi gas tetap ada di pangkalan, hanya dibatasi agar semua kebagian,” ujarnya.
Vale menyebut, pasokan yang diantarkan ke pangkalan berdasarkan DO (delivery order) dari Pertamina yang jumlahnya terbatas.
"Dalam sebulan rata-rata hanya 18 kali pengantaran. Jadi memang ada hari-hari kosong, bukan setiap hari,” katanya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Sejumlah warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengeluhkan praktik nakal penjual elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram eceran, yang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan gas sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Salah satunya Supri (61 tahun), warga Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat. Ia mengaku kerap kesulitan membeli gas di eceran terdekat rumahnya, dan terpaksa mengantri di pangkalan resmi Pertamina tepatnya di SPBU Jalan Martadinata, Selasa (09/09/2025).
“Pangkalan di depan gang saya nggak dapat (gas). Pangkalan sebenarnya nggak langka, cuman penjual itu nggak benar. Gas nggak mungkin langka,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, penjual gas eceran dekat rumahnya menerima pasokan hingga 300 tabung per minggu. Namun, ketersediaan tersebut tidak dirasakan warga sekitar.
“Pangkalan dekat rumah saya itu katakanlah dapat stok (gas) 300 tabung dalam seminggu, masa tidak bisa melayani 100 orang? Kan tidak mungkin. Penjualnya nakal, harga yang mereka jual pun berbeda dengan pangkalan resmi,” ujarnya.
Supri menyebut, harga di pangkalan resmi hanya Rp 18.500 per tabung, sementara di eceran dekat rumahnya bisa mencapai Rp 19.000 hingga Rp 25.000. Ia juga menilai, penyaluran gas 3 Kg tidak merata karena banyak pangkalan justru melayani pembeli dari luar wilayah.
“Harapan saya ke depan, penjualan harus sesuai aturan, satu KTP satu tabung, supaya adil untuk warga sekitar,” tambahnya.
Sementara itu, Vale, salah satu pengantar gas LPG 3 kg dari agen resmi di Pontianak mengatakan, pihaknya hanya mengantarkan pasokan ke pangkalan. Mekanisme distribusi ke warga selanjutnya diatur sesuai kebijakan Pertamina.
“Kalau di sini khusus untuk warga setempat. Syaratnya jelas, satu orang satu tabung dengan menunjukkan KTP. Itu aturan dari Pertamina, supaya pembagian lebih merata,” jelas Vale.
Ia menambahkan, ketersediaan gas memang mengalami pasang surut. Pada momen tertentu, permintaan kadang meningkat sehingga masyarakat sulit mendapatkan tabung.
“Kalau langka itu sudah biasa, seperti ada musimnya. Saat orang ramai beli, jadi terasa sulit. Tapi gas tetap ada di pangkalan, hanya dibatasi agar semua kebagian,” ujarnya.
Vale menyebut, pasokan yang diantarkan ke pangkalan berdasarkan DO (delivery order) dari Pertamina yang jumlahnya terbatas.
"Dalam sebulan rata-rata hanya 18 kali pengantaran. Jadi memang ada hari-hari kosong, bukan setiap hari,” katanya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini