Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Jauhari Fatria |
| Tuesday, 02 February 2021 |
KalbarOnline.com – Ribuan warga ultra-Ortodoks Israel memadati acara pemakaman dua rabi terkemuka di Yerusalem pada hari Minggu (31/1/2021), mencemoohkan larangan negara itu terhadap pertemuan besar-besaran selama pandemi Covid-19.
Dilansir dari VOA Indonesia, prosesi pemakaman awal untuk Rabi Meshulam Soloveitchik, yang meninggal pada usia 99 tahun, melewati jalan-jalan Yerusalem. Ini merupakan unjuk penolakan terbaru warga ultra-Ortodoks Israel terhadap pembatasan terkait pandemi virus corona.
Fenomena ini merusak kampanye vaksinasi agresif Israel untuk mengendalikan wabah yang berkecamuk dan mengancam merugikan PM Benjamin Netanyahu dalam pemilu Maret. Dua penantangnya menuduh Netanyahu gagal menegakkan hukum karena tekanan dari kalangan ultra-Ortodoks yang menjadi sekutu politiknya.
Orang-orang yang berjejalan berkumpul di luar rumah rabi, mengabaikan restriksi pertemuan lebih dari 10 orang di luar rumah. Banyak di antara mereka yang tidak mengenakan masker.
Ribuan pelayat ultra-Ortodoks yang berbaju hitam melewati gerbang utama kota menuju pemakaman di mana Soloveitchik dikebumikan. Sejumlah polisi menutup persimpangan-persimpangan jalan agar pelayat dapat berlalu, tetapi mereka tampaknya tidak mengambil tindakan untuk mencegah pertemuan ilegal itu.
Media Israel menyebut Soloveitchik, rabi terkemuka yang memimpin beberapa seminari terkenal, terjangkit Covid-19 baru-baru ini.
Sore harinya, ribuan pelayat ultra-Ortodoks menghadiri pemakaman rabi terkemuka lainnya, Yitzhok Scheiner. Mereka kembali mengabaikan peraturan lockdown. Scheiner, 98, juga meninggal karena Covid-19, sebut berbagai laporan.
Alon Halfon, pejabat kepolisian Yerusalem, mengatakan kepada TV Channel 13 bahwa polisi tidak punya banyak pilihan selain membiarkan prosesi besar-besaran bagi Soloveitchik berlangsung. Ia mengatakan tindakan polisi sebelumnya telah membantu mengurangi jumlah orang yang berkerumun dan bahwa sekitar 100 tiket tilang telah dikeluarkan terkait pelanggaran kesehatan. Tetapi di tengah kerumunan massa yang demikian padat, dengan anak-anak di antara mereka, upaya membubarkan massa akan “tidak bijaksana dan berbahaya.”
Kementerian Kesehatan Israel telah mencatat lebih dari 640 ribu kasus virus corona terkonfirmasi dan sedikitnya 4.745 kematian sejak awal pandemi.
Netanyahu telah lama mengandalkan dukungan dari partai-partai ultra-Ortodoks. Para pengecam menyebut Netanyahu menolak untuk berlawanan dengan sekutu-sekutunya menjelang pemilu penting. [rif]
KalbarOnline.com – Ribuan warga ultra-Ortodoks Israel memadati acara pemakaman dua rabi terkemuka di Yerusalem pada hari Minggu (31/1/2021), mencemoohkan larangan negara itu terhadap pertemuan besar-besaran selama pandemi Covid-19.
Dilansir dari VOA Indonesia, prosesi pemakaman awal untuk Rabi Meshulam Soloveitchik, yang meninggal pada usia 99 tahun, melewati jalan-jalan Yerusalem. Ini merupakan unjuk penolakan terbaru warga ultra-Ortodoks Israel terhadap pembatasan terkait pandemi virus corona.
Fenomena ini merusak kampanye vaksinasi agresif Israel untuk mengendalikan wabah yang berkecamuk dan mengancam merugikan PM Benjamin Netanyahu dalam pemilu Maret. Dua penantangnya menuduh Netanyahu gagal menegakkan hukum karena tekanan dari kalangan ultra-Ortodoks yang menjadi sekutu politiknya.
Orang-orang yang berjejalan berkumpul di luar rumah rabi, mengabaikan restriksi pertemuan lebih dari 10 orang di luar rumah. Banyak di antara mereka yang tidak mengenakan masker.
Ribuan pelayat ultra-Ortodoks yang berbaju hitam melewati gerbang utama kota menuju pemakaman di mana Soloveitchik dikebumikan. Sejumlah polisi menutup persimpangan-persimpangan jalan agar pelayat dapat berlalu, tetapi mereka tampaknya tidak mengambil tindakan untuk mencegah pertemuan ilegal itu.
Media Israel menyebut Soloveitchik, rabi terkemuka yang memimpin beberapa seminari terkenal, terjangkit Covid-19 baru-baru ini.
Sore harinya, ribuan pelayat ultra-Ortodoks menghadiri pemakaman rabi terkemuka lainnya, Yitzhok Scheiner. Mereka kembali mengabaikan peraturan lockdown. Scheiner, 98, juga meninggal karena Covid-19, sebut berbagai laporan.
Alon Halfon, pejabat kepolisian Yerusalem, mengatakan kepada TV Channel 13 bahwa polisi tidak punya banyak pilihan selain membiarkan prosesi besar-besaran bagi Soloveitchik berlangsung. Ia mengatakan tindakan polisi sebelumnya telah membantu mengurangi jumlah orang yang berkerumun dan bahwa sekitar 100 tiket tilang telah dikeluarkan terkait pelanggaran kesehatan. Tetapi di tengah kerumunan massa yang demikian padat, dengan anak-anak di antara mereka, upaya membubarkan massa akan “tidak bijaksana dan berbahaya.”
Kementerian Kesehatan Israel telah mencatat lebih dari 640 ribu kasus virus corona terkonfirmasi dan sedikitnya 4.745 kematian sejak awal pandemi.
Netanyahu telah lama mengandalkan dukungan dari partai-partai ultra-Ortodoks. Para pengecam menyebut Netanyahu menolak untuk berlawanan dengan sekutu-sekutunya menjelang pemilu penting. [rif]
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini