Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 11 November 2020 |
KalbarOnline.com – Sejumlah isu gerakan anti memakai masker menjadikan hambatan dalam mengatasi penyebaran virus Korona. Padahal protokol kesehatan memakai masker diyakini sebagai senjata paling efektif untuk terhindar dari virus Korona. Sayangnya, masker menjadi isu dengan beberapa orang mengatakan bahwa memakai masker akan menyebabkan hipoksia atau kehabisan oksigen.
Dilansir dari Boy Genius Report (BGR), Rabu (11/11), peneliti membuktikan hal itu tak benar. Tenaga medis selama ini memakai masker di rumah sakit sepanjang waktu, termasuk selama operasi yang lama, dan mereka tidak menderita hipoksia.
Masker memungkinkan oksigen lewat sambil memblokir patogen di udara. Dokter dan perawat memakainya untuk melindungi pasien selama operasi, tetapi juga untuk melindungi diri mereka sendiri.
Ilmuwan dari Universitas McMaster di Kanada Amerika Serikat membuktikan bahwa masker sangat aman dalam hal kadar oksigen. Peneliti memilih untuk melakukan eksperimen pada orang tua. Itu karena lansia lebih mungkin menderita masalah medis yang dapat meningkatkan risiko kematian karena Covid-19.
Sebanyak 25 peserta direkrut dari kondominium pensiunan di Ontario antara 27 Juli dan 10 Agustus. Para peneliti memberi semua sukarelawan jenis masker nonmedis sekali pakai tiga lapis yang sama yang biasa digunakan masyarakat. Lalu juga diberi oksimeter denyut portabel yang mengukur saturasi denyut nadi dan oksigen.
Para ilmuwan menginstruksikan kepada relawan untuk mengukur kadar oksigen mereka sebelum, selama, dan setelah memakai masker. Para partisipan disuruh melakukan pengukuran dengan jarak 20 menit untuk 1 jam sebelumnya. Yaitu 1 jam saat, dan 1 jam setelah memakai masker saat mereka sedang istirahat atau melakukan aktivitas keseharian di rumah.
Para partisipan memiliki usia rata-rata 76,5 tahun dan termasuk 12 perempuan dan 13 laki-laki. Sembilan relawan memiliki setidaknya satu kondisi medis.
Untuk penelitian tersebut, para peneliti memilih relawan yang memiliki penyakit jantung atau pernapasan penyerta yang dapat menyebabkan dispnea atau hipoksia, serta orang-orang yang tidak dapat melepas masker tanpa bantuan.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa rata-rata saturasi oksigen yang dikumpulkan adalah 96,1 persen sebelum pakai masker, 96,5 persen selama pakai masker, dan 96,3 persen setelah memakai masker.
Tingkat oksigen tidak turun di bawah 92 persen saat memakai masker. Para peneliti ingin melihat apakah memakai masker dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen sebesar 2 persen pada kelompok terpilih, namun itu tidak terjadi.
Mereka mengatakan bahwa penurunan sebesar 3 persen jadi indikator penting secara klinis. Kesimpulannya adalah bahwa masker wajah tidak menghalangi oksigenasi, dan tidak menyebabkan hipoksia atau penurunan saturasi oksigen.
KalbarOnline.com – Sejumlah isu gerakan anti memakai masker menjadikan hambatan dalam mengatasi penyebaran virus Korona. Padahal protokol kesehatan memakai masker diyakini sebagai senjata paling efektif untuk terhindar dari virus Korona. Sayangnya, masker menjadi isu dengan beberapa orang mengatakan bahwa memakai masker akan menyebabkan hipoksia atau kehabisan oksigen.
Dilansir dari Boy Genius Report (BGR), Rabu (11/11), peneliti membuktikan hal itu tak benar. Tenaga medis selama ini memakai masker di rumah sakit sepanjang waktu, termasuk selama operasi yang lama, dan mereka tidak menderita hipoksia.
Masker memungkinkan oksigen lewat sambil memblokir patogen di udara. Dokter dan perawat memakainya untuk melindungi pasien selama operasi, tetapi juga untuk melindungi diri mereka sendiri.
Ilmuwan dari Universitas McMaster di Kanada Amerika Serikat membuktikan bahwa masker sangat aman dalam hal kadar oksigen. Peneliti memilih untuk melakukan eksperimen pada orang tua. Itu karena lansia lebih mungkin menderita masalah medis yang dapat meningkatkan risiko kematian karena Covid-19.
Sebanyak 25 peserta direkrut dari kondominium pensiunan di Ontario antara 27 Juli dan 10 Agustus. Para peneliti memberi semua sukarelawan jenis masker nonmedis sekali pakai tiga lapis yang sama yang biasa digunakan masyarakat. Lalu juga diberi oksimeter denyut portabel yang mengukur saturasi denyut nadi dan oksigen.
Para ilmuwan menginstruksikan kepada relawan untuk mengukur kadar oksigen mereka sebelum, selama, dan setelah memakai masker. Para partisipan disuruh melakukan pengukuran dengan jarak 20 menit untuk 1 jam sebelumnya. Yaitu 1 jam saat, dan 1 jam setelah memakai masker saat mereka sedang istirahat atau melakukan aktivitas keseharian di rumah.
Para partisipan memiliki usia rata-rata 76,5 tahun dan termasuk 12 perempuan dan 13 laki-laki. Sembilan relawan memiliki setidaknya satu kondisi medis.
Untuk penelitian tersebut, para peneliti memilih relawan yang memiliki penyakit jantung atau pernapasan penyerta yang dapat menyebabkan dispnea atau hipoksia, serta orang-orang yang tidak dapat melepas masker tanpa bantuan.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa rata-rata saturasi oksigen yang dikumpulkan adalah 96,1 persen sebelum pakai masker, 96,5 persen selama pakai masker, dan 96,3 persen setelah memakai masker.
Tingkat oksigen tidak turun di bawah 92 persen saat memakai masker. Para peneliti ingin melihat apakah memakai masker dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen sebesar 2 persen pada kelompok terpilih, namun itu tidak terjadi.
Mereka mengatakan bahwa penurunan sebesar 3 persen jadi indikator penting secara klinis. Kesimpulannya adalah bahwa masker wajah tidak menghalangi oksigenasi, dan tidak menyebabkan hipoksia atau penurunan saturasi oksigen.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini