Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 11 November 2020 |
KalbarOnline.com – Para analis dan pengamat politik dunia ramai-ramai menganalisis bagaimana pengaruh kemenangan Joe Biden dalam Pilpres 2020 terkait hubungan AS dengan Tiongkok. Analis Keamanan Taiwan menilai meski Biden menang tetap tak ada peluang bagi Tiongkok dan AS untuk berdamai.
“Tidak ada hubungan, tidak ada jalan kembali antara Amerika Serikat dan Tiongkok, bahkan jika presiden terpilih Joe Biden kemungkinan akan mencari kerja sama dengan Tiongkok mengenai masalah-masalah tertentu,” kata Analis Keamanan Taiwan Su Tzu-yun, dilansir dari Newsweek, Selasa (10/11).
Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Institut Riset Kebijakan Nasional, sebuah wadah pemikir lokal, Su dan para pemikir lainnya sepakat bahwa pemerintahan Biden akan terus mencoba dan menahan ekspansionisme Tiongkok.
“Konsensus bipartisan Taiwan yang diakui oleh partai Republik dan Demokrat tidak akan berubah. Periode pasca-Trump atau pra-Biden akan mengikuti jalur yang dapat diprediksi,” katanya.
Menurut Su, berdasarkan kebijakan luar negeri Amerika di bawah Presiden Barack Obama, Biden kemungkinan akan melanjutkan versi strategi ‘Pivot to Asia’ yang juga diikuti oleh pemerintahan Trump. Namun, taktik presiden terpilih akan kurang agresif.
“Upaya Amerika untuk membendung Tiongkok tidak akan berubah karena masih ada masalah seperti perdagangan, teknologi, dan keamanan militer,” ujarnya.
“Dalam esai awal tahun ini, Biden telah mengidentifikasi Tiongkok sebagai tantangan utama,” kata Su.
Dia mengatakan Biden akan tetap bersaing dengan Tiongkok dalam masalah-masalah tradisional seperti yang berkaitan dengan militer dan keamanan, tetapi akan mencari kerja sama dari Beijing ketika menyangkut masalah non-tradisional seperti perubahan iklim. Maka sulit untuk memperbaiki kembali hubungan kedua negara.
“Hubungan AS-Tiongkok telah mengalami perubahan struktural. Tidak ada jalan kembali,” jelasnya.
Peneliti keamanan nasional senior itu mengatakan dia mengharapkan pemerintahan Biden mengikuti pendekatan multilateral terhadap kebijakan luar negeri yang sejalan dengan Partai Demokrat. Ini akan mencakup lebih banyak kerja sama angkatan laut di Asia-Pasifik. Dia juga memperkirakan penjualan senjata akan terus berlanjut antara Taiwan dan AS.
“Jika Biden masuk ke Gedung Putih, saya tidak berpikir penjualan senjata ke Taiwan akan berubah. Yang sudah diumumkan oleh pemerintahan Trump tidak akan berubah, dan penjualan masa depan oleh pemerintahan Biden tidak akan berkurang dalam kuantitas atau kualitas juga,” paparnya.
Namun, selama seminar, Su mencatat pentingnya Taiwan meningkatkan kemampuan prrtahanan. “Yang terpenting dari semuanya, kita tidak bisa terus bergantung pada niat baik orang lain. Kita harus mengandalkan kemampuan kita sendiri,” kata Su.
Hubungan ke depan Taiwan dan AS tampaknya sulit diraba pada saat ini menjadi agenda utama. Dalam survei baru-baru ini oleh Asosiasi Pertukaran Elite Asia-Pasifik di Taiwan, yang dilakukan setelah Pilpres AS, 22,7 persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka yakin hubungan AS-Taiwan akan memburuk di bawah Biden, tetapi 52,8 persen menilai hubungan itu tidak akan berubah.
Saksikan video menarik berikut ini:
KalbarOnline.com – Para analis dan pengamat politik dunia ramai-ramai menganalisis bagaimana pengaruh kemenangan Joe Biden dalam Pilpres 2020 terkait hubungan AS dengan Tiongkok. Analis Keamanan Taiwan menilai meski Biden menang tetap tak ada peluang bagi Tiongkok dan AS untuk berdamai.
“Tidak ada hubungan, tidak ada jalan kembali antara Amerika Serikat dan Tiongkok, bahkan jika presiden terpilih Joe Biden kemungkinan akan mencari kerja sama dengan Tiongkok mengenai masalah-masalah tertentu,” kata Analis Keamanan Taiwan Su Tzu-yun, dilansir dari Newsweek, Selasa (10/11).
Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Institut Riset Kebijakan Nasional, sebuah wadah pemikir lokal, Su dan para pemikir lainnya sepakat bahwa pemerintahan Biden akan terus mencoba dan menahan ekspansionisme Tiongkok.
“Konsensus bipartisan Taiwan yang diakui oleh partai Republik dan Demokrat tidak akan berubah. Periode pasca-Trump atau pra-Biden akan mengikuti jalur yang dapat diprediksi,” katanya.
Menurut Su, berdasarkan kebijakan luar negeri Amerika di bawah Presiden Barack Obama, Biden kemungkinan akan melanjutkan versi strategi ‘Pivot to Asia’ yang juga diikuti oleh pemerintahan Trump. Namun, taktik presiden terpilih akan kurang agresif.
“Upaya Amerika untuk membendung Tiongkok tidak akan berubah karena masih ada masalah seperti perdagangan, teknologi, dan keamanan militer,” ujarnya.
“Dalam esai awal tahun ini, Biden telah mengidentifikasi Tiongkok sebagai tantangan utama,” kata Su.
Dia mengatakan Biden akan tetap bersaing dengan Tiongkok dalam masalah-masalah tradisional seperti yang berkaitan dengan militer dan keamanan, tetapi akan mencari kerja sama dari Beijing ketika menyangkut masalah non-tradisional seperti perubahan iklim. Maka sulit untuk memperbaiki kembali hubungan kedua negara.
“Hubungan AS-Tiongkok telah mengalami perubahan struktural. Tidak ada jalan kembali,” jelasnya.
Peneliti keamanan nasional senior itu mengatakan dia mengharapkan pemerintahan Biden mengikuti pendekatan multilateral terhadap kebijakan luar negeri yang sejalan dengan Partai Demokrat. Ini akan mencakup lebih banyak kerja sama angkatan laut di Asia-Pasifik. Dia juga memperkirakan penjualan senjata akan terus berlanjut antara Taiwan dan AS.
“Jika Biden masuk ke Gedung Putih, saya tidak berpikir penjualan senjata ke Taiwan akan berubah. Yang sudah diumumkan oleh pemerintahan Trump tidak akan berubah, dan penjualan masa depan oleh pemerintahan Biden tidak akan berkurang dalam kuantitas atau kualitas juga,” paparnya.
Namun, selama seminar, Su mencatat pentingnya Taiwan meningkatkan kemampuan prrtahanan. “Yang terpenting dari semuanya, kita tidak bisa terus bergantung pada niat baik orang lain. Kita harus mengandalkan kemampuan kita sendiri,” kata Su.
Hubungan ke depan Taiwan dan AS tampaknya sulit diraba pada saat ini menjadi agenda utama. Dalam survei baru-baru ini oleh Asosiasi Pertukaran Elite Asia-Pasifik di Taiwan, yang dilakukan setelah Pilpres AS, 22,7 persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka yakin hubungan AS-Taiwan akan memburuk di bawah Biden, tetapi 52,8 persen menilai hubungan itu tidak akan berubah.
Saksikan video menarik berikut ini:
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini