Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 10 October 2020 |
KalbarOnline.com–Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan masyarakat Bali untuk mewaspadai ancaman potensi gempa dengan magnitudo hingga 8,8. Pusat gempa diperkirakan ada di selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara.
”Kita punya ancaman di selatan Bali. Di Bali ada zonanya yang beberapa lama tidak ada gempanya. Sehingga ada potensi selatan Bali dan Nusa Tenggara itu potensi magnitudo 8,8. Ini patut diwaspadai karena gempa magnitudo 5 sampai 6 di selatan Bali sudah beberapa kali terjadi,” kata Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Aam Abdul Muhari seperti dilansir dari Antara
Dalam rapat kerja yang dipimpin Kepala BNPB Doni Monardo dengan Gubernur Bali, di Denpasar, Aam menjelaskan, jika gempa itu terjadi, dampaknya akan sangat parah terjadi di daerah Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, dan Sanur, Kota Denpasar.
”Bali itu ‘kan ada lehernya di sebelah selatan. Lehernya bisa terendam dari sisi kiri dan kanan. Tinggi tsunami di darat sekitar 4 hingga 15 meter,” terang Aam.
Terlebih di kawasan Kabupaten Badung banyak jalan yang tegak lurus pantai dan dikelilingi rumah. Sehingga, ketika air tsunami masuk ke jalan itu gerakannya akan lebih cepat.
Selain potensi gempa dari selatan Bali, Aam mengatakan Bali juga memiliki ancaman terkena imbas gempa yang dahsyat dari segmen Jawa Barat dan selatan Jawa Timur. ”Kalau itu pecah secara bersamaan, potensi magnitudo gempanya bisa 9,1, seperti halnya gempa di Aceh pada 2004,” sebut Aam.
Bagi Bali, lanjut dia, efek gelombangnya diprediksi akan sampai dalam waktu 30–40 menit, sehingga waktu tersebut kesempatan yang dimiliki untuk melakukan evakuasi.
”Jadi penting untuk paham sekiranya merasakan gempa lebih dari 20 detik, harus evakuasi. Biasanya jika gempa tidak diiringi tsunami itu pelepasan gempanya kurang dari 10 detik. Kalau gempa terus hingga 20 detik itu hampir pasti diiringi tsunami,” jelas Aam.
Dia menambahkan, dengan melihat kondisi populasi penduduk yang sudah padat di kawasan selatan Pulau Bali, tempat evakuasi harus banyak, mudah diakses, dan kelihatan.
”Ketika gempa terjadi siang hari, lampu lalu lintas pasti tidak nyala sehingga akan menimbulkan kemacetan dan tidak bisa melakukan evakuasi. Kalau pengalaman di Jepang, di setiap perempatan ada jembatan penyeberangan yang dijadikan tempat evakuasi sementara, sehingga ketika ada kemacetan, bisa naik ke jembatan penyeberangan tersebut,” ujar Aam.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diingatkan selalu pada masyarakat. ”Suka tidak suka, senang tidak senang, negara kita memiliki ancaman risiko bencana tertinggi di dunia,” ucap Doni.
Saksikan video menarik berikut ini:
KalbarOnline.com–Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan masyarakat Bali untuk mewaspadai ancaman potensi gempa dengan magnitudo hingga 8,8. Pusat gempa diperkirakan ada di selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara.
”Kita punya ancaman di selatan Bali. Di Bali ada zonanya yang beberapa lama tidak ada gempanya. Sehingga ada potensi selatan Bali dan Nusa Tenggara itu potensi magnitudo 8,8. Ini patut diwaspadai karena gempa magnitudo 5 sampai 6 di selatan Bali sudah beberapa kali terjadi,” kata Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Aam Abdul Muhari seperti dilansir dari Antara
Dalam rapat kerja yang dipimpin Kepala BNPB Doni Monardo dengan Gubernur Bali, di Denpasar, Aam menjelaskan, jika gempa itu terjadi, dampaknya akan sangat parah terjadi di daerah Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, dan Sanur, Kota Denpasar.
”Bali itu ‘kan ada lehernya di sebelah selatan. Lehernya bisa terendam dari sisi kiri dan kanan. Tinggi tsunami di darat sekitar 4 hingga 15 meter,” terang Aam.
Terlebih di kawasan Kabupaten Badung banyak jalan yang tegak lurus pantai dan dikelilingi rumah. Sehingga, ketika air tsunami masuk ke jalan itu gerakannya akan lebih cepat.
Selain potensi gempa dari selatan Bali, Aam mengatakan Bali juga memiliki ancaman terkena imbas gempa yang dahsyat dari segmen Jawa Barat dan selatan Jawa Timur. ”Kalau itu pecah secara bersamaan, potensi magnitudo gempanya bisa 9,1, seperti halnya gempa di Aceh pada 2004,” sebut Aam.
Bagi Bali, lanjut dia, efek gelombangnya diprediksi akan sampai dalam waktu 30–40 menit, sehingga waktu tersebut kesempatan yang dimiliki untuk melakukan evakuasi.
”Jadi penting untuk paham sekiranya merasakan gempa lebih dari 20 detik, harus evakuasi. Biasanya jika gempa tidak diiringi tsunami itu pelepasan gempanya kurang dari 10 detik. Kalau gempa terus hingga 20 detik itu hampir pasti diiringi tsunami,” jelas Aam.
Dia menambahkan, dengan melihat kondisi populasi penduduk yang sudah padat di kawasan selatan Pulau Bali, tempat evakuasi harus banyak, mudah diakses, dan kelihatan.
”Ketika gempa terjadi siang hari, lampu lalu lintas pasti tidak nyala sehingga akan menimbulkan kemacetan dan tidak bisa melakukan evakuasi. Kalau pengalaman di Jepang, di setiap perempatan ada jembatan penyeberangan yang dijadikan tempat evakuasi sementara, sehingga ketika ada kemacetan, bisa naik ke jembatan penyeberangan tersebut,” ujar Aam.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diingatkan selalu pada masyarakat. ”Suka tidak suka, senang tidak senang, negara kita memiliki ancaman risiko bencana tertinggi di dunia,” ucap Doni.
Saksikan video menarik berikut ini:
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini