Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Jauhari Fatria |
| Saturday, 02 February 2019 |
KalbarOnline, Pontianak
– Anggota DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, SE., M.Sos turut berkomentar
lantaran masih banyaknya anak-anak bermain layangan menggunakan tali kawat dan
gelasan. Menurut Bebby, anak-anak yang bermain layangan hanya untuk kesenangan
semata.
Meski demikian, Bebby meminta agar orang tua memberikan
pengertian ekstra terhadap anak-anak lantaran tak jarang merenggut nyawa
manusia.
“Diharapkan kepada orang tua agar lebih memperhatikan
anak-anak mereka, jika anaknya masih membandel saya rasa perlu adanya
pengertian ekstra terhadap masyarakat yang masih melanggar,” ujarnya saat
dikonfirmasi via telepon, Sabtu (2/2/2019).
Menurut Bebby, harus ada tindakan tegas terhadap orang tua
atau sekolah yang turut memiliki peran penting dalam membimbing anak-anak agar
tidak bermain layangan.
Bebby juga menyoroti bahwa tak sedikit pula yang
memanfaatkan permainan layangan sebagai sarana perjudian di kalangan orang
dewasa.
“Setelah diselidiki pemain layang-layang bertali tajam
seperti gelasan ternyata ada unsur perjudian,” ujar Bebby.
Untuk itu, lanjut dia, perda terkait layangan juga perlu mengatur
terkait perjudian termasuk penjualan layangan.
“Kemarin juga ada maklumat antara Wali Kota dan Kapolresta
terkait layangan ini, menurut saya itu sudah bagus,” imbuhnya.
Namun kata dia, yang menjadi masalah adalah implementasi
peraturan di lapangan, sehingga harus berkaca terhadap kejadian yang merenggut
korban jiwa beberapa waktu lalu.
Dampak dari kejadian yang menelan korban jiwa kemarin, kata
Bebby, tentu berimplikasi pada penurunan jumlah pemain layangan.
Diakuinya pula, perda terkait layangan memang belum mengatur
secara jelas terkait penjual layangan. Namun, kata Bebby, hal itu bisa
dilakukan revisi atau penambahan terhadap perda yang sudah ada.
“Tinggal diusulkan saja penambahan perda tersebut dan jangan
lupa implementasi di lapangan juga harus memberikan efek jera,” pungkasnya.
Seperti diketahui tim terpadu Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) Kota Pontianak kembali melakukan razia layangan yang menyisir
wilayah Pontianak Timur, Sabtu (2/2/2019) sore.
Namun dalam operasi kali ini tidak ditemukan adanya pemain
layang-layang dari kalangan orang dewasa, melainkan didominasi anak-anak
dibawah umur. (Fat)
KalbarOnline, Pontianak
– Anggota DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, SE., M.Sos turut berkomentar
lantaran masih banyaknya anak-anak bermain layangan menggunakan tali kawat dan
gelasan. Menurut Bebby, anak-anak yang bermain layangan hanya untuk kesenangan
semata.
Meski demikian, Bebby meminta agar orang tua memberikan
pengertian ekstra terhadap anak-anak lantaran tak jarang merenggut nyawa
manusia.
“Diharapkan kepada orang tua agar lebih memperhatikan
anak-anak mereka, jika anaknya masih membandel saya rasa perlu adanya
pengertian ekstra terhadap masyarakat yang masih melanggar,” ujarnya saat
dikonfirmasi via telepon, Sabtu (2/2/2019).
Menurut Bebby, harus ada tindakan tegas terhadap orang tua
atau sekolah yang turut memiliki peran penting dalam membimbing anak-anak agar
tidak bermain layangan.
Bebby juga menyoroti bahwa tak sedikit pula yang
memanfaatkan permainan layangan sebagai sarana perjudian di kalangan orang
dewasa.
“Setelah diselidiki pemain layang-layang bertali tajam
seperti gelasan ternyata ada unsur perjudian,” ujar Bebby.
Untuk itu, lanjut dia, perda terkait layangan juga perlu mengatur
terkait perjudian termasuk penjualan layangan.
“Kemarin juga ada maklumat antara Wali Kota dan Kapolresta
terkait layangan ini, menurut saya itu sudah bagus,” imbuhnya.
Namun kata dia, yang menjadi masalah adalah implementasi
peraturan di lapangan, sehingga harus berkaca terhadap kejadian yang merenggut
korban jiwa beberapa waktu lalu.
Dampak dari kejadian yang menelan korban jiwa kemarin, kata
Bebby, tentu berimplikasi pada penurunan jumlah pemain layangan.
Diakuinya pula, perda terkait layangan memang belum mengatur
secara jelas terkait penjual layangan. Namun, kata Bebby, hal itu bisa
dilakukan revisi atau penambahan terhadap perda yang sudah ada.
“Tinggal diusulkan saja penambahan perda tersebut dan jangan
lupa implementasi di lapangan juga harus memberikan efek jera,” pungkasnya.
Seperti diketahui tim terpadu Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) Kota Pontianak kembali melakukan razia layangan yang menyisir
wilayah Pontianak Timur, Sabtu (2/2/2019) sore.
Namun dalam operasi kali ini tidak ditemukan adanya pemain
layang-layang dari kalangan orang dewasa, melainkan didominasi anak-anak
dibawah umur. (Fat)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini